Senin, 06 Mei 2013
SEDERHANA ITU INDAH [Part 2]
Betapa indah menjalani hidup yang sederhana. Kita bisa bekerja tanpa harus silau terhadap harta. Selalu ada jeda untuk melangitkan setiap urusan dunia melalui rangkaian ibadah. Kita juga tidak lari dari realita dunia dengan dalih ibadah. Seperti Rasulullah, beliau ahli ibadah, tetapi masih memiliki kesempatan untuk menikmati makanan, minuman, pakaian, dan hiburan. Beliau bahkan tidur dan beristirahat, menikah dan bercengkerama dengan keluarga.
Kita yang mengaku umat beliau justru merasa susah mempraktikkan kesederhanaan dalam urusan dunia. Alam keseharian kita seolah tidak memberikan ruang untuk tidak terpukau kemilau harta. Ironisnya, kita begitu mudah untuk mempraktikkan kesederhanaan dalam urusan ibadah. Jadilah kita begitu rajin mengumpulkan investasi dunia sembari mengabaikan tabungan akhirat.
Sekalinya kita mampu sederhana dalam urusan dunia, ternyata bukan sebuah pilihan, melainkan keterpaksaan akibat kehilangan daya saing untuk meraup harta. Begitu terlempang jalan di depan mata, berjuta cara segera kita tempuh agar dapat merengkuh harta tanpa mengindahkan perkara halal atau haram.
Disadari, memang tidak ada manusia di bumi yang sanggup meniru persis perilaku Rasulullah. Tetapi mengamalkan ajaran Rasulullah secara tebang pilih jelas bukan sebuah sikap bijak. Tidak pantas kita berlaku sederhana dalam urusan ibadah, sementara loba dalam urusan dunia. Ketika kita berhasil berlaku sederhana dalam urusan ibadah, jangan-jangan itu bukan mengamalkan ajaran Rasulullah, melainkan wujud kemalasan kita dalam beribadah.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar