Senin, 06 Mei 2013

Hedonis, menggerogoti kaum muda

Hedonis adalah penggalan dari kata Hedonisme yang artinya adalah pandangan yg menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai  tujuan utama dalam hidup. Gaya hidup hedonis terbentuk oleh sifat,karakter serta mental seseorang yang memandang terbutuhnya kepuasan fisik dan mental dengan parameter ada banyak  atau sedikitnya harta atau uang yang dipunya. Kalo banyak uang atau harta mereka “kaum hedon” akan bergembira campur ceria dalam mengarungi hidup di dunia dengan harta di kiri kanannya atau mereka bahkan percaya inilah “surga” sebenarnya di dunia fana ini daripada memikirkan hidup mereka di “akhirat” karena terganjal dogma yang mengekang mereka atau yang mereka disebut “kebebasan hidup”. Mereka lupa akan adanya kehidupan setelah dunia itu yaitu “Akhirat” padahal  Allah SWT berfirman dalam QS Al Mu’min ayat 39:
Gaya Hidup Hedonis
Artinya:
Hai kaumku, Sesungguhnya kehidupan dunia Ini hanyalah kesenangan (sementara) dan Sesungguhnya akhirat Itulah negeri yang kekal.
Berbanding terbalik jika kondisi mereka minim harta, sikap mental mereka merespon akan tidak bisanya menerima kenyataan hidup ini, yang terjadi istilah “gali lubang tutup lubang”, “menghalalkan segala cara” hingga yang paling ekstrim, putus asa lalu akhirnya “mengakhiri hidup” naudzubillah summa naudzubillah. Padahal yang harus disadari kesenangan manusia bukan hanya uang. Mengutip dari teori barat klasik yang diusung oleh Abraham Maslow yaitu kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan fisik , kebutuhan ego ( contoh:kebutuhan untuk dihormati ) dan kebutuhan untuk mewujudkan diri ( self actualizing ), misalnya kebutuhan akan makna hidup dan perkembangan pribadi. Karena saya yakin tidak semua orang mencapai kebutuhan ini, kebanyakan manusia berhenti pada tingkat 1 atau 2 saja belum mencapai tingkat ini. Bahkan saya rasa masyarakat barat sendiri belum bisa menerapkannya terlebih bangsa Indonesia. Saya pribadi kurang setuju dengan pendapat A. Maslow yang memasukannya jenis/macam  kebutuhan dalam jenjang (hirarki), idealnya menurut saya semua semua jenis kebutuhan itu harus ada dalam diri kita  pribadi. Yang nantinya bersinergi menjadikan kita pribadi yang berpikir dan mawas diri,  Yaitu dengan tidak melawan ketentuan illahi. Kuncinya ialah rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT baik lisan maupun perbuatan. Secara lisan kita diajarkan untuk mengucap Alhamdulillah dan secara perbuatan kita memanfaatkan rejeki untuk tujuan mulia, baik  untuk kita sendiri atau  berbagi dengan sesama yang nantinya tidak ada yang namanya kegelisahan hidup. Bukankah sudah jelas firman Allah SWT dalam QS. Ibrahim ayat 7:
2-8-2013 10-50-05 AM
Artinya :
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Bukan hal baru bahwa hedonisme mendorong orang untuk hidup individual tanpa peka terhadap sekelilingnya. Ini yang membuatkan ketimpangan di sana sini, ditambah istilah “ Yang Kaya Makin Kaya, Yang Miskin Makin Melarat “. Yang lebih ironis, gaya hidup hedonis bukan gaya kalangan orang atas saja tetapi mulai menjangkiti kalangan bawah, jika hedonisme sudah menyerang kalangan bawah diperlukan instrospeksi diri (muhasabah) masing – masing individu bahwa, sesungguhnya gaya hidup seperti itu akan menyiksa mereka.Pernyataan ini bukan untuk membolehkan Si Kaya untuk hedonis, yang ada Si Kaya makin sayang pada Si Miskin.  Mereka mungkin mendapatkannya dari kehidupan nyata dimana si kaya mencontohkan pada mereka tanpa dibarengi dengan pendidikan moral  ditambah tayangan TV, seperti sinetron yang masih saja menjual “mimpi” tanpa menyertakan unsur pendidikan akhlak.  Hendaklah mereka sadar dengan kemampuan finansial mereka, dan sekali lagi “Mental” yang diserang disini. Dan jika ada yang beranggapan semuanya bisa dibeli dengan Uang/Harta karena itu karena semata – mata jebakan setan untuk menjerumuskan manusia, jika sudah begini hendaknya mendekatkan dengan Allah SWT.  Karena Allah SWT sebaik-baiknya pemberi jawaban atas rahasia hidup

SEDERHANA ITU INDAH [Part 2]



Betapa indah menjalani hidup yang sederhana. Kita bisa bekerja tanpa harus silau terhadap harta. Selalu ada jeda untuk melangitkan setiap urusan dunia melalui rangkaian ibadah. Kita juga tidak lari dari realita dunia dengan dalih ibadah. Seperti Rasulullah, beliau ahli ibadah, tetapi masih memiliki kesempatan untuk menikmati makanan, minuman, pakaian, dan hiburan. Beliau bahkan tidur dan beristirahat, menikah dan bercengkerama dengan keluarga.

Kita yang mengaku umat beliau justru merasa susah mempraktikkan kesederhanaan dalam urusan dunia. Alam keseharian kita seolah tidak memberikan ruang untuk tidak terpukau kemilau harta. Ironisnya, kita begitu mudah untuk mempraktikkan kesederhanaan dalam urusan ibadah. Jadilah kita begitu rajin mengumpulkan investasi dunia sembari mengabaikan tabungan akhirat.

Sekalinya kita mampu sederhana dalam urusan dunia, ternyata bukan sebuah pilihan, melainkan keterpaksaan akibat kehilangan daya saing untuk meraup harta. Begitu terlempang jalan di depan mata, berjuta cara segera kita tempuh agar dapat merengkuh harta tanpa mengindahkan perkara halal atau haram.

Disadari, memang tidak ada manusia di bumi yang sanggup meniru persis perilaku Rasulullah. Tetapi mengamalkan ajaran Rasulullah secara tebang pilih jelas bukan sebuah sikap bijak. Tidak pantas kita berlaku sederhana dalam urusan ibadah, sementara loba dalam urusan dunia. Ketika kita berhasil berlaku sederhana dalam urusan ibadah, jangan-jangan itu bukan mengamalkan ajaran Rasulullah, melainkan wujud kemalasan kita dalam beribadah.

Selasa, 30 Oktober 2012

Sederhana



Sudah menjadi aksioma, apabila budaya kebendaan telah merasuki peradaban, sering kali diiringi pula dengan semakin menipisnya nilai-nilai moral. Kehidupan manusia dipilah-pilah berdasarkan kriteria kekayaan dan jabatan kekuasaan, sehingga kita mengenal istilah kelas ekonomi, kelas bisnis dan VIP alias manusia sangat penting.

Kita seakan dipojokkan pada situasi tanpa pilihan, menjadi piranti kehidupan yang harus menerima, seraya menampilkan sosok manusia berdimensi satu : manusia bendawi! Tahta, harta dan wanita menjadi asesoris kemewahan, sebuah mata rantai yang tidak terpisahkan untuk mereguk kenikmatan bendawi tersebut. Bagi mereka, hidup adalah pesta, sanjungan dan hura-hura. Persaingan sehat menjadi sebuah utopia dan khayalan. Moral dan etika semakin temaram dan kemudian lindap.

Dalam situasi seperti itu, para mujahid dakwah harus tampil ke depan untuk memberikan pelita kebenaran, mengingatkan dan mengajak mereka untuk tetap hidup sebagai manusia sederhana. Hidup bukanlah untuk menumpuk harta sehingga tidak produktif, tetapi justru menjadikan harta yang kita miliki mengalir dan beredar menjadi asset masyarakat dan membersihkannya melalui baitul maal yang amanah. Sabda Rosulullah saw “ Kekayaan itu bukan karena banyaknya harta benda yang dimiliki, tetapi kekayaan jiwa “ (HR Bukhari).

Sayidina Ali menyatakan “Kalau engkau ingin menjadi raja, maka pakailah sifat qona’ah (puas). Kalau engkau ingin surga dunia sebelum surga akhirat, pakailah budi pekerja yang mulia”.

Dalam satu kesempatan, Rosulullah saw bersabda “Tuhanku telah menawarkan kepadaku untuk menjadikan lapangan di kota Mekah menjadi emas. Aku berkata, ’Jangan Engkau jadikan emas wahai Tuhan. Tetapi cukuplah bagiku merasa kenyang sehari, lapar sehari. Apabila aku lapar maka aku dapat menghadap dan mengingat Mu, dan ketika aku kenyang aku dapat bersyukur memuji Mu’” (HR Ahmad dan Tarmidzi).

Ucapan baginda Rosul tersebut merupakan salah satu mutiara akhlakul karimah yang disebut dengan qona’ah. Yaitu sikap menerima apa yang ada sambil terus berikhtiar, sabar dan tawakal serta waspada agar tidak terperangkap dalam segala godaan yang menyesatkan serta tipu daya setan yang selalu menyelusup dihati manusia. Qona’ah seperti inilah yang kita sebut sebagai hayatun jamilah wa toyibah (hidup yang indah dan sejahtera).

Kita harus menjadi orang-orang kaya yang tetap qona’ah. Kita harus tampil sebagai bangsa yang besar dimana sebagian besar para pemimpinnya adalah sosok manusia yang tampil sebagai uswatun hasanah dan bersikap hidup sederhana.

Menjalani hidup bersama dengan orang miskin walaupun kita kaya, mendengarkan jeritan kaum dhuafa dan hidup sederhana walaupun kita mampu adalah cirri pemimpin yang qona’ah. Itu semua karena kita sadar bahwa sederhana itu indah!

(Dikutip dari kumpulan Hikmah Republika ‘ Sederhana itu Indah’)