Selasa, 30 Oktober 2012

Sederhana



Sudah menjadi aksioma, apabila budaya kebendaan telah merasuki peradaban, sering kali diiringi pula dengan semakin menipisnya nilai-nilai moral. Kehidupan manusia dipilah-pilah berdasarkan kriteria kekayaan dan jabatan kekuasaan, sehingga kita mengenal istilah kelas ekonomi, kelas bisnis dan VIP alias manusia sangat penting.

Kita seakan dipojokkan pada situasi tanpa pilihan, menjadi piranti kehidupan yang harus menerima, seraya menampilkan sosok manusia berdimensi satu : manusia bendawi! Tahta, harta dan wanita menjadi asesoris kemewahan, sebuah mata rantai yang tidak terpisahkan untuk mereguk kenikmatan bendawi tersebut. Bagi mereka, hidup adalah pesta, sanjungan dan hura-hura. Persaingan sehat menjadi sebuah utopia dan khayalan. Moral dan etika semakin temaram dan kemudian lindap.

Dalam situasi seperti itu, para mujahid dakwah harus tampil ke depan untuk memberikan pelita kebenaran, mengingatkan dan mengajak mereka untuk tetap hidup sebagai manusia sederhana. Hidup bukanlah untuk menumpuk harta sehingga tidak produktif, tetapi justru menjadikan harta yang kita miliki mengalir dan beredar menjadi asset masyarakat dan membersihkannya melalui baitul maal yang amanah. Sabda Rosulullah saw “ Kekayaan itu bukan karena banyaknya harta benda yang dimiliki, tetapi kekayaan jiwa “ (HR Bukhari).

Sayidina Ali menyatakan “Kalau engkau ingin menjadi raja, maka pakailah sifat qona’ah (puas). Kalau engkau ingin surga dunia sebelum surga akhirat, pakailah budi pekerja yang mulia”.

Dalam satu kesempatan, Rosulullah saw bersabda “Tuhanku telah menawarkan kepadaku untuk menjadikan lapangan di kota Mekah menjadi emas. Aku berkata, ’Jangan Engkau jadikan emas wahai Tuhan. Tetapi cukuplah bagiku merasa kenyang sehari, lapar sehari. Apabila aku lapar maka aku dapat menghadap dan mengingat Mu, dan ketika aku kenyang aku dapat bersyukur memuji Mu’” (HR Ahmad dan Tarmidzi).

Ucapan baginda Rosul tersebut merupakan salah satu mutiara akhlakul karimah yang disebut dengan qona’ah. Yaitu sikap menerima apa yang ada sambil terus berikhtiar, sabar dan tawakal serta waspada agar tidak terperangkap dalam segala godaan yang menyesatkan serta tipu daya setan yang selalu menyelusup dihati manusia. Qona’ah seperti inilah yang kita sebut sebagai hayatun jamilah wa toyibah (hidup yang indah dan sejahtera).

Kita harus menjadi orang-orang kaya yang tetap qona’ah. Kita harus tampil sebagai bangsa yang besar dimana sebagian besar para pemimpinnya adalah sosok manusia yang tampil sebagai uswatun hasanah dan bersikap hidup sederhana.

Menjalani hidup bersama dengan orang miskin walaupun kita kaya, mendengarkan jeritan kaum dhuafa dan hidup sederhana walaupun kita mampu adalah cirri pemimpin yang qona’ah. Itu semua karena kita sadar bahwa sederhana itu indah!

(Dikutip dari kumpulan Hikmah Republika ‘ Sederhana itu Indah’)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar